Sabtu, 17 September 2011

PENDIDIKAN NILAI HAKIKI DALAM KELUARGA

PENDIDIKAN NILAI HAKIKI DALAM KELUARGA

1.      Bentuk Keluarga

Ada berbagai jenis bentuk keluarga, menurut Kamanto Sunarto(1993), berdasarkan keanggotaannya, keluarga dibedakan menjadi batih(nuclear family) dan keluarga luas(extended family). Keluarga batih adalah keluarga terkecil, terdiri dari ayah, ibu dan anak, sedangkan keluarga luas adalah keluarga yang terdiri dari beberapa keluarga batih.
Berdasarkan garis keturunannya, keluarga dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu keluarga patrilinial(garis keturunan ditarik dari pria atau ayah), keluarga matrilineal(garis keturunan ditarik darik wanita atau ibu) dan keluarga bilateral (garis keturunan ditarik dari pria dan wanita atau ayah dan ibu). Selain itu berdasarkan pemegang kekuasaanya, dibedakan menjadi: keluarga patriarhat, yaitu  dominasi kekuasaan berada pada pihak ayah, keluarga matriarhat,yaitu dominasi kekuasaan berada pada pihak ibu, dan keluarga equalitarian,  pihak ayah dan pihak ibu mempunyai dominasi kekuasaan yang sama.
Berdasarkan bentuk perkawinannya, keluarga dibedakan menjadi: keluarga monogamy, yaitu pernikahan antara satu orang laki-laki dan satu orang perempuan, keluarga poligami, yaitu pernikahan satu orang laki-laki dengan lebih dari satu perempuan, kerluarga poliandri, yaitu perempuan yang mempunyai suami lebih dari satu pada waktu bersamaan. Berdasarkan dari tingkat status ekonomi terdiri dari keluarga golongan rendah, keluarga golongan menengah dan keluarga golongan tinggi. Selanjutnya berdasrkan tingkat keutuhannya, keluarga dapat dibedakan menjadi: keluarga utuh, keluarga bercerai dan keluarga pecah semu, yaitu keluarga yang tidak bercerai tetapi hubungan antara suami,  istri dan anak-anak sudah tidak harmonis lagi.

2.      Fungsi Keluarga

Keluarga memiliki beberapa fungsi, antara lain fungsi biologis, funsi ekonomi, fungsi edukatif, fungsi religious, fungsi sosialisasi, funsi rekreasi, funsi orientasi. Menurut ahli Antropologi, keluarga memiliki fungsi yang universal, George Peter Murdock (Sudardja Adiwikarta, 1988) menegemukakan empat funsi keluarga yang bersifat universal yaitu sebagai berikut:
a.       Sebagai pranata yang membenarkan hubungan seksual antara pria dan wanita dewasa berdasarkan pernikahan;
b.      Mengembangkan Keturunan;
c.       Melaksanakan Pendidikan;
d.      Sebagai kesatuan Ekonomi.

3.      Penanggung Jawab Pendidikan dalam Keluarga

Salah satu fungsi keluarga adalah melaksanakan penddikan. Dalam hal ini orang tua(ayah dan ibu) adalah pengemban tanggung jawab pendidikan anak. Secara kodrati orang tua bertanggungjawab atas pendidkan anak, atas nama kash sayanggnya orang tua mendidik anak. Orang yang berperan sebagai pendidik anak dalam keluarga utamanya adalah orang tua. Selain mereka, saudaranya yang telah dewasa dan masih tinggal satu rumah pun ikut bergaul dengan anak dan turut mempengaruhi bahkan mendidiknya. Apa lagi dalam keluarga luarga luas(extended family), kakek, nenek, paman, bibi bahkan pembantu rumah tangga pun turut serta bergaul dengan anak, mereka juga turut mempengaruhi atau mendidik anak. Menyimak hal itu, pergaulan pendidikan anak dalam keluarga terkadang berlangsung hanya dilakukan oleh orang tua(ayah, ibu) dan anaknya saja.

4.      Keluarga merupakan Lingkungan Pendidikan yang Bersifat Wajar atau Informal

Pendidikan dalam keluarga dlaksanakan atas dasar tanggung jawab kodrati dan atas dasar kasih saying secara naluriah muncul pada diri orang tua. Sejak anak lahir orang tua sudah terpanggil untuk menolongnya, membantunya, dan melndunginya. Pelaksanaan berlangsung tidak dengan cara-cara artificial, melainkan secara alamiah atau berlangsung secara wajar. Karena itu pendidikan dalam keluarga disebut pendidikan informal.
Sejak kelahirannya anak mendapatkan pendidikan dar dan di dalam keluargannya. Pendidikan yang dilaksanakan dalam keluarga sejak anak masih kecil akan menjadi dasar bagi pendidikan dan kehidupannya di masa yang akan dating. Hal ini seperti diungkapkan oleh M.I Soelaeman(1985), bahwa ”pengalaman dan perlakuan yang didapat anak dalam lingkungannya semasa kecil dan dari keluarganya menggariskan semacam pola hidup dengan kata ‘Leitlinie’, semacam garis yang membimbing kehidupannya, yang sadar atau tidak sadar dusahakan anak untuk meraihnya.”. Pengalaman yang diterima anak semasa kecil akan menentukan sikap hidupnya di kemudian hari. Sehubungan dengan itu keluarga merupakan peletak dasar pendidikan anak.

5.      Tujuan dan Isi Pendidikan dalam Keluarga

Sekalipun tidak ada tujuan pendidikan dalam keluarga yang dirumuskan secara tersurat, tetapi secara tersirat dipahami bahwa tujuan pendidikan anak dalam keluarga pada umunya adalah agar anak berkepribadian mantap, beragama, bermoral dan menjadi anggota masyarakat yang baik.
Memperhatikan tujuan tersebut maka pendidikan keluarga dapat dipandang sebagai persiapan ke arah kehidupan anak dalam masyarakatnya. Adapun isi pendidikan keluarga lebih menitikberatkan pada penanaman nilai hakiki kehidupan, yaitu sebagai berikut:

a.      Nilai Agama
Pendidikan atau penanaman nilai agama dalam keluaraga sangat penting diberikan kepada anak, karena akan membimbing anak ke arah kebahagiaan dunia dan akhirat. Penanaman dasar keimanan dan ketauhidan tentang ke Maha Esaan Allah Subhanahuwataala merupakan hal pokok dengan disertai pelaksanakan ibadah harian seperti Solat yang lima waktu, berpuasa, berdoa dan mengaji Al-Qur’an.  atau disesuaikan dengan agama dan kepercayaan keluarga yang bersangkutan. Hal ini harus dilakukan oleh orang tua dengan penuh tanggungjawab, sabar, tawakal  dan orang tua harus menunjukan teladan yang baik di tengah-tengah keluarga.

b.      Nilai Budaya
Budaya atau kebudayaan menurut Kuntjoro Ningrat(1989) adalah  segala sesuatu yang merupakan hasil daya cipta, rasa, karsa dan karya manusia untuk digunakan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kaitan ini orang tua harus mampu mengenalkan budaya kepada anaknya, baik yang bersifat materil maupun yang bersifat non materil(perkakas) seperti bahasa dan seni. Orang tua harus mampu menjadi filter masuknya budaya asing yang tidak relevan dengan kultur bangsa.Hal-hal yang dapat dilakukan oleh orang tua, diantaranya seperti: membimbing anak ketika menonton tayangan televisi, mengecek bentuk atau jenis permainan anak, mengenalkan teknologi, memberi pengertian tentang pakaian yang patut dan layak dikenakan oleh anak, mengenalkan seni tradisional seperti dongeng-dongeng yang bijak dan sebagainya.

c.       Nilai Moral
Penanaman nilai moral lebih pada pembiasaan anak untuk bersikap atau berperilaku sopan dan santun terhadap orang tua dan anggota keluarga lainya. Tutur kata yang halus dan sapaan yang baik harus ditanamkan sejak dini pada diri anak  di dalam keluarga. Orang tua pun harus memberi pengertian dan contoh perilaku yang bermoral dan perilaku yang tidak bermoral serta akibat yang ditimbulkan dari tindakan tersebut. Dalam hal ini sikap keteladanan orang tua sangat diharapkan agar anak mempunyai figur yang ideal.

d.      Nilai Keterampilan
Nilai-nilai keterampilan dasar(basic skill)  di dalam keluarga seyogyanya diberikan kepada anak, seperti keterampilan membereskan tempat tidur, membersihkan kamar mandi, mengepel ruangan, menata perabotan, cara berbusana, bercocok tanam, membaca, menulis, berhitung,  dan komputerisasai serta keterampilan lainnya. Hal tersebut akan memberikan bekal kepada anak untuk untuk melangsungkan kehidupan di masa yang akan datang serta dapat menunjang keberhasilan belajar anak.


6.      PRAKTEK PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA DARI SUDUT PANDANG AGAMA ISLAM
a.      Pendahuluan

1)      Pendidikan merupakan suatu proses terjadinya perubahan kea rah peningkatan kapasitas dan potensi diri seseorang.
2)      Pendidikan hendaknya dapat mengubah seseorang dari berbagai aspek, yakni : aspek kognitif (pengetahuan, aspek afektif (sikap), dan aspek psikomotor (keterampilan)
3)      Islam telah mewajibkan setiap orang untuk melaksanakan pendidikan, sehingga pendidikan diposisikan sebagai suatu aktivitas yang sangat strategis. Seperti halnya sabda Rasulullah Saw yang artinya “Menuntut ulmu itu diwajibkan atas tiap orang islam” (HR. Ibnu Barri)
4)      Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang memegang peranan dalam mewujudkan masyarakat yang berkualitas
5)      sementara dalam lingkup keluarga, allah berfirman dalam Q.S At-Tahrim Ayat 6: yang artinya “wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.
6)      agar diri dan keluarga memperoleh keselamatan hidup di dunia dan akhirat, maka cara yang dapat ditempuh adalah dengan mendidik keluarga sesuai dengan tuntutan ajaran islam
7)      mendidik anak merupakan suatu investasi, sesuai dengan hadis Rasulullah Saw: yang artinya “tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih baik daripada budi (pendidikan) yang baik”. (HR. Turmudzi)
  
Pendidikan Anak dimulai dengan Pendidikan Pribadi Orang Tua
1)      dalam melaksanakan pendidikan terhadap anak, hendaknya didasari terlebih dahulu dengan pendidikan pribadi orang tua.
2)      Rasulullah menyarankan untuk memulai segala sesuatu yang baik dari diri sendiri terlebih dahulu
3)      yang perlu dijadikan acuan dan teladan dalam melaksanakan pendidikan pribadi adalah Rasulullah Saw

b.            17 Aspek Pendidikan Anak
1)   menanamkan tauhid dan aqidah; dilakukan dengan dengan menanamkan keyakinan kepada anak bahwa Allah itu Maha Esa.
2)   mengajarkan al-Qur’an dan hadis
3)   melatih mengerjakan shalat dan ibadah lainnya
4)   memisahkan tempat tidur dan menutup auratnya
5)   mengajarkan halal dan haram
6)   memperlakukan anak dengan kasih saying dan bijaksana
7)   menanamkan rasa cinta kepada sesame
8)   memperlakukan anak sesuai dengan kemampuannya
9)   berlaku adil terhadap anak-anaknya
10)  memberi teladan terhadap anak-anak
11)  memperhatikan pergaulan anak
12)  memberi hiburan dan mengajak berolahraga
13)  mendidik anak agar mandiri
14)  memperkenalkan dan bersilaturahmi dengan kerabat
15)  mendidik anak untuk peduli kepada sesame
16)  mendidik anak agar peduli terhadap lingkungan sekitar
17)     mewasiatkan anak kepada Islam

  1. Penutup

Pendidikan yang diberikan orang tua kepada ankanya dapat membekas atau juga sebaliknya. Hal tersebut tergantung pembiasaan apa yang diwujudkan oleh para orang tua terhadap anak-anaknya. Untuk itu, kiranya unkapan berikut (Dorothy L. Notle) bisa menjadi bahan renungan kita.
1)      jika anak-anak hidup dengan kecaman, mereka belajar untuk mengutuk
2)      jika anak-anak hidup dengan permusuhan, mereka belajar untuk berkelahi
3)      jika anak-anak hidup dengan cemoohan, mereka belajar untuk rendah diri
4)      jika anak-anak hidup dengan kecemburuan, mereka belajar untuk iri hati
5)      jika anak-anak hidup dengan toleransi, mereka belajar untuk bersikap sabar
6)      jika anak-anak hidup dengan dorongan semangat, mereka belajar untuk menjadi percaya diri
7)      jika anak-anak hidup dengan pengakuan, mereka belajar untuk memiliki tujuan
8)      jika anak-anak hidup dengan saling berbagi, mereka belajar untuk bermurah hati
9)      jika anak-anak hidup dengan kejujuran dan keadilan, mereka belajar memahami makna kebenaran
10)  jika anak-anak hidup dengan keamanan, mereka belajar uintuk percaya terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekelilingnya
11)  jika anak-anak hidup dengan kasih sayang dan persahabatan, mereka belajar untuk menemukan cinta dalam kehidupan

7.      Situasi Keluarga Mempengaruhi Pendidikan Anak

Berbagai factor yang ada dan terjadi dalam keluarga akan turut menentukan kualitas pendidikan anak.   Jenis keluarga, gaya kepemimpinan orang tua, kedudukan anak dalam keluarga, fasilitas yang tersedia dalam keluarga, hubungan keluarga dengan dunia luar, status ekonomi orangtua dan sebagainya akan turut mempengaruhi situasi pendidikan anak di dalam keluarga, yang pada hakikatnya akan turut pula mempengaruhi kepribadian anak.

8.      Karateristik Pendidikan dalam Keluarga

Lingkungan pendidikan keluarga tergolong pada jalur pendidikan informal, adapun karakteristiknya antara lain, sebagai berikut:
a.       Tujuan pendididikanya lebih kepada pengembangan karakter;
b.      Peserta didiknya bersifat heterogen;
c.       Isi pendidikannya tidak terprogram secara formal/tidak memiliki kurikulum tertulis;
d.      Tidak berjenjang;
e.       Waktu pendidikan tidak terjadwal secara ketat, relative lama;
f.       Cara pelaksanaan pendidikan bersifat wajar;
g.      Evaluasi pendidikan tidak sistematis dan incidental;
h.      Credentials (sertifikat/ijazah) tidak ada dan tidak penting.

9.      Kesimpulan

Keluarga merupakan unit social terkecil yang bersifat universal, artinya terrdapat di setiap tempat di dunia(universe). Dalam arti sempit, keluarga adalah unit social yang terdiri dari dua orang(suami-istri) atau lebih (ayah, ibu dan anak) berdasarkan ikatan pernikahan. Sedangkan dalam arati luas keluarga adalah unit social berdasarkan hubungan darah atau keturunan yang terdiri atas beberapa keluarga dalam arti sempit.
Tujuan pendidikan anak dalam keluarga pada umunya adalah agar anak berkepribadian mantap, beragama, bermoral dan menjadi anggota masyarakat yang baik. Memperhatikan tujuan tersebut maka pendidikan keluarga dapat dipandang sebagai persiapan ke arah kehidupan anak dalam masyarakatnya, keluarga merupakan peletak dasar pendidikan anak.
Berbagai factor yang ada dan terjadi dalam keluarga akan turut menentukan kualitas pendidikan anak, yang pada hakikatnya akan turut pula mempengaruhi kepribadian anak.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar